Posts

Showing posts from January, 2016

Surat Imam Khomeini kepada Gorbachev

Image
 Imam Khomeini (Tengah) Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang Kepada Yang Mulia Tuan Gorbachev Ketua Presidium Uni Soviet Dengan keinginan demi kebahagiaan dan kesejahteraan Anda dan rakyat Uni Soviet. Semenjak Anda memegang kekuasaan, timbul kesan bahwa Anda, dalam menganalisa masalah politik dunia, khususnya yang timbul menyangkut Uni Soviet, telah mendapati diri dalam era baru penafsiran kembali, peralihan dan tantangan. Keberanian dan keteguhan Anda menghadapi kenyataan internasional tersebut nampaknya akan membawa perubahan pertimbangan kekuasaan di dunia sehingga saya merasa perlu meminta perhatian Anda pada beberapa hal berikut ini. Meskipun sikap dan keputusan Anda yang baru itu hanya terbatas pada bagaimana cara mengatasi problema kepartaian selain dilema bangsa Anda, namun keberanian Anda meninjau kembali ideologi yang selama bertahun-tahun telah memenjarakan kaum revolusioner dunia dalam tirai besi, pantas mendapat pujian. Tetapi jika Anda

Ammatoa

Image
Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)  “Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga” Bohe itu punya badan gemuk dengan lipatan daging yang tebal di leher dan perutnya. Kulitnya cokelat sawo terang. Ia duduk bersila menggunakan sarung hitam khas Kajang. Ia pakai passapu, kain kepala khusus lakilaki Kajang. Tapi yang ia pakai berbeda. Ia seorang pemimpin. Makanya ada dua pucuk dipassapunya. Dari sebelah jendela ia duduk, nampak mukanya yang bundar diterpa angin siang. Ia pria 70 tahun yang bermuka khas dengan tahi lalat hampir di seluruh mukanya. Ketika berbicara, tahi lalat itu bergerakgerak dengan bibir yang selalu melempar senyum. Pria lebih setengah abad itu seorang Ammatoa. Begitulah ia dipanggil. Ammatoa duduk di atas tampin ketika saya masuk ke mukimnya. Rumahnya hanya berupa tiga ruangan dengan satu tempat utama untuk menerima tamu. Di ruangan itu juga, di sebelah kirinya, tanpa sekat adalah dapur. Di situ ada istrinya. Saat masuk, saya langsung disambu

Peringatan Maulid dan Refleksi Kecintaan Kepada Nabi

Image
Dimuat di harian Fajar edisi Sabtu 26 Januari 2013 Sabara Nuruddin Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar Seorang laki-laki dari kalangan Anshar datang menemui Rasulullah saw, ia mengadu kepada baginda Nabi, “Ya Rasulullah, aku tidak tahan berpisah denganmu, jika aku masuk ke rumahku, lalu aku ingat dirimu, aku tinggalkan harta dan keluargaku, aku lepaskan kerinduanku dengan memandangmu.  Lalu, aku ingat pada hari kiamat, pada hari itu engkau dimasukkan ke surga dan ditempatkan di tempat yang paling mulia, bagaimana aku, ya Nabi Allah?”.  Beliau tidak menajwab, tidak lama setelah itu, turunlah ayat,  “ Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama orang-orang yang Allah anugerahkan nikmat, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan para shalihin, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya,  (QS, an-Nisa:69).  Begitu ayat tersebut turun, Rasul memanggil laki-laki tersebut dan membacakan ayat itu dan memberikan kabar gembi

Ilusi Identitas dan Sindiran Lacan

Image
(Jacques Lacan) Oleh : Muhajir S.pd Seseorang bisa saja mengatakan dirinya “aku bugis”, “aku makassar”, “aku cantik”, “aku tampan” , “aku”........... Tapi bagaimana jika segala identitas manusia tak lahir dari otonomi kesadarannya sendiri? Maka, dari sini, muncul pertanyaan baru: kalau begitu, dari mana identitas kita bermula? Disinilah manusia disindir tanpa ampun oleh pemikir yang satu ini: Jacques Lacan. Menurut Lacan, seorang psikoanalis tersohor, ‘aku’, sebut saja juga ego, sebenarnya hanyalah ilusi, hanyalah produk dari ketidaksadaran. Baca Juga  Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato Sindiran Lacan bisa kita interpretasikan seperti ini: Jika kesadaran_menilik cogito Cartesian_ adalah ego rasional dan memegang kendali atas diri, maka, ketidaksadaran adalah diri irasional dan diri yang dikendalikan oleh bukan dirinya: Sang lain (selanjutnya disebut Liyan). Pengendalian “diri” oleh Liyan, tak lain dan tak bukan, justru karena diri tak memiliki pusat kendali: kesadaran itu. Sehingga

Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato

Image
Foto: Pixabay Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil Sejak dahulu, pembahasan mengenaipertentangan internal dalam diri manusia antara hasrat (nafsu) dan akal buditelah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana dharma dalam ajaran Hindumengajarkan memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yangkerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskanbahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalahdengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan Timur tersebut mengingatkan akan bahayanyanafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia. Tak lama berselang, masih lebihkurang 24 abad silam, dari bumi Athena seorang pemikir besar bernama Platoberpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yangsaling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semuahasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Meski pandangan tenta

Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Aristoteles

Image
Aristoteles (Foto: Pixabay) Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil.i Menjadi bahagia, disadari atau tidak adalah tujuansemua manusia. Pada dasarnya motif yang menggerakkan manusia untuk melakukanapa pun adalah untuk mencapai kebahagiaan.  Tujuan asasi manusia adalah mencapaikebahagiaan, namun pendefenisian kita tentang kebahagiaan sering berbeda,sehingga tindakan kita untuk mencapai kebahagiaan tersebut berbeda-beda pula,bahkan kerap berkontradiksi antara satu orang dengan orang lain.  Pendefenisianatau pemaknaan kita tentang apa itu kebahagiaan sangat menentukan tindakan kitauntuk mencapainya. Sebagian orang melekatkan kebahagiaan pada hal-halyang bersifat materil, sehingga pencapaian kebahagiaan dilakukan denganberusaha memuaskan segenap hasratnya untuk mencerap kenikmatan materil.  Sebaliknya ada yang berpandangan bahwa melekatkan kebahagiaan pada sesuatu yang bersifatmateril adalah sebuah kesalahan besar, karena materi tak akan pernah memebrikankebahagiaan hakiki pada ma

Akal dalam Alquran dan Filsafat Islam: (Sebuah Catatan Pengantar)

Image
Ilustrasi Oleh: Sabara, M. Fil.i A.    Mukaddimah Akal (‘aql) adalah fakultas epistemologi yg sangat penting dalam diri manusia, yang dengannya manusia bisa mengetahui, memahami, dan menganalisis sesuatu dengan baik. Namun, apa sebenarnya akal? Dan apa saja kategorisasinya? Banyak yang tidak mengetahuinya.  Para filosof muslim, khususnya filosof paripatetik membahas tentang akal secara terperinci, karena konsepsi tentang akal merupakan postulat dasar dalam filsafat mereka. Mereka percaya bahwa dengan akal dapat mengantarkan manusia untuk mencapai kebenaran sejati. Lalu bagaimana, Alquran sebagai dalil naqli menjelaskan tentang akal? B.     Defenisi Akal Akal merupakan kata yang diadopsi dari bahasa Arab, yaitu al-a’ql ( ism atau kata benda). Sedangkan dalam bentuk fi’il (kata kerja) sebagaimana yang sering disebut dalam Alquran adalah ‘aqalah, ta’qilun, na’qil, ya’qilun, dan ya’qiluha , dan orang yang berakal disebut ‘ aqil.   Secara etimologis, kata akal berasal

Cinta Pesan Kemanusian Iqbal

Image
Oleh : Alik Nino C.S.pd Subuh yang damai, rasa-rasanya tidak seperti subuh saya yang lalu-lalu. Diluar sana gema semesta terdengar mellow dengan melodi hujan melengkapi segalanya. Sejak terbangun subuh tadi, seperti biasa aku hendak membaca. Sebenarnya akhir-akhir ini saya mulai membiasakan cepat bangun pagi, selain ingin mengubah kebiasan buruk bangun jam 11 siang, saya juga ingin punya jadwal yang rutin dalam membaca.  Karena alasan ini maka jadwal membaca saya pindah jam tayang; waktu subuh tepatnya. Sebelumnya saya punya jadwal membaca yang buruk, dimana selera membaca saya hadir disitu pula saya sedang membaca. Yaa...selera jadi indikator membaca Namun namanya selera tidak selamanya hadir, ia hanya sesaat. Karena itu membaca sangat tidak rutin saya laksanakan. Selain membaca, sayajuga menyempatkan untuk menulis apa saja yang ada di dalam kepalaku yang membentak hendak keluar.  Sebab ketika tidak keluar kepala saya jadi panas dan saya tidak mau kepala saya terasa pan

Maulid dan Cinta Rasul di kampungku

Saya sengaja memakai baju berwarna tua supaya jelas pembeda saya dan bakul maulid yang penuh dengan warna-warni cerah. Hahaha Maulid di kampung saya sudah menjadi hajatan yang setiap tahunnya kami laksanakan, seperti biasanya bakul berisikan telur dan songkolo menjadi penebar maulid cita rasa Nusantara. peringatan maulid dikampung saya Setiap kepala rumah tangga memiliki satu sampai lima bakul, satu bakul untuk dinikmati bersama satu anggota keluarga dan beberapa diantara diberikan kepada penitia maulid, untuk dibagikan ke masyarakat yang tak punya bakul yang tak sempat mebuat bakul dan jua diberikan kepada para kafilah Barazanji. Ada yang unik dari peringatan maulid kami adalah bakul maulid yang dibuat dikumpulkan di masjid lalu panitia maulid menukar bakul kami dengan bakul warga yang lain, ibarat Kado ulang tahun kami saling tukar kado. Sehinggah jikalau acar sudah selesai masing-masing warga membawa pulang bakul hasil tukara lalu dibukanyalah dengan penuh rasa penasa

Soekarno dan Pancasila di Tanah Persia

Image
Soekarno Oleh  : Sabara Nuruddin SH, M.fil.i Dalam Book Art of Humanism Religius Iran, Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamene’i yang pernah menjabat presiden Iran dua periode 1981-1989 dan sekarang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan Ayatullah Khomeini sejak tahun 1989, bercerita tentang sebuah pengalaman beliau ketika berada dalam tahanan rezim Syah Pahlevi ketika masa perjuangan revousi Iran.  Ayatullah‘Ali Khamane’i dipenjarakan dalam satu sel bersama seorang komunis dari partai Baats (atau sekarang disebut sosialis loyalis). Ali Khamene’i datang  mendekati tahanan tersebut, lalu mengucapkan salam Tapi tahanan tersebut enggan berbicara pada Ali Khamene’i dan tidak membalas salamnya. Tanpa mengacuhkan sikap tak acuh dari lawan bicaranya, Ali Khamene’i bertanya; “Apa anda seorang komunis dari partai revolusi baats?”orng tersebut tetap diam.  Mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah seorang anggota Partai Baats yang berhaluan sosialis-komun

Mengapa Filsafat?: Sebuah Testimoni

Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil.i Filsafat itu ruwet, menyesatkan, tidak ada gunanya, bahkan berbahaya, itu kata orang yang sebenarnya tak mampu berpikir. Filsafat itu ruwet memang, tapi lebih lagi ruwet kehidupan yang dijalani dengan pikiran yang kacau, tidak sistematik, dan dengan dasar yang tidak jelas. Filsafat itu ruwet karena sebetulnya ia ingin mengurai benang kusut kehidupan dengan menjernihkan pikiran yang keruh. Kita sering menderita dan kacau karena persoalan-persoalan yang tidak jelas. oleh “persoalan” yang sebenarnya bukan persoalan. Filsafat hendak menjernihkan peta persoalan dalam hidup kita. Filsafat menambah gagasan, memeprdalam kemampuan analisis kita, dan memperkuat argumentasi. Filsafat itu menyesatkan, tapi lebih menyesatkan orang yang tidak mengerti pendapatnya sendiri, tdk tau pilihannya sendiri, sikap dan prilakunya lebih karena mengikuti kecenderungan org lain di sekelilingnya. Orang seperti ini tidak mengetahui apa yang ia yakini dan gamang den

Filsafat Barat: Pengantar Perspektif Sejarah Pemikiran

Filsafat Barat adalah sejarah panjang pemikiran manusia-manusia kaukasoid yang dengan mengendarai nalarnya mencoba untuk keluar dari belenggu dogma mitologis. Evolusi pemikiran filsafat Barat berkembang dari kritik pemikiran kosmologi hingga mengutak-atik pemikiran alam simbologi, dari pemikiran kosmosentris Thales hingga petualangan semiologi Roalnd Barthes. Namun, apakah filsafat Barat hanyalah sebuah sketsa sejarah pemikiran yang berada pada lokus kawasan belahan Barat dunia?. Selama lebih dari 2500 tahun pemikiran filsafat Barat beranjak dari Miletos lalu menyeberang ke tanah Greek dan terkungkung dalam hegemoni gereja skolastik Romawi, lalu bersinar memantik pencerahan akal budi di tanah Inggris, Jerman, dan Prancis, hingga seluruh daratan Eropa, Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil Amerika, dan akhirnya dengan itu, peradaban Barat tampil menghegemoni dunia. Filsafat Barat adalah simbol penegakan keagungan dan kuasa nalar manusia yang berontak terhadap keangkuhan dan kekakuan dogma.

Waktu Kolektif

Oleh : Bahrul Amsal S.sos  Modernisme memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah waktu kolektif. Dewasa ini, betapa langkanya waktu bersama yang dipunyai. Hilangnya waktu bersama adalah penanda bagaimana kejamnya modernisme mencuri yang “intim” dari ikatan sosial. Akibatnya, manusia jadi orangorang yang antisosial dan pelit kasih sayang. Selanjutnya, kita lupa bahwa ada yang disebut teman, sahabat, karib, dan sanak keluarga, tempat kita berbagi perhatian dan kasih sayang. Waktu kolektif menjadi langka terutama karena makin beragamnya kesibukan dan kepentingan, sementara itu waktu begitu terbatas. Anthony Giddens mendaku modernitas telah membelah ruang dan waktu, sehingga orangorang sangat sulit berada pada satu momen yang sama. Sementara itu, semakin canggihnya alat informasi membuat orangorang semakin terpecah satu sama lain. Di kehidupan rumah tangga, misalnya, tak menjamin kedekatan fisik berarti juga terjalin keintiman emosional di dalamnya . Berkumpulnya sanak keluarga da

Kebutuhan Membangun Adab: Diskursus Pendidikan Islam

Oleh : Muhajir S .pd “ Muliakanlah anak-anakmu dan  perbaikilah adab mereka ”   ( HR Ibn Majah) Setidaknya ada tiga domain yang menjadi sasaran pendidikan untuk diaktualisasikan dalam diri peserta didik, diantaranya kognitif (wawasan keilmuan dan pola pikir), afektif (adab), dan psikomotorik (keterampilan). Maka ukuran kegagalan pendidikan ketika ketiganya, secara standar, belum terpenuhi dalam diri peserta didik.   Berkaitan dengan tiga taksonomi di atas, bisa dikatakan pendidikan saat ini telah memberi sumbangsi yang cukup besar dalam membentuk kemampuan kognitif dan psikomotorik masyarakat. Di indonesia telah banyak orang-orang yang mempunyai wawasan dan keterampilan di bidang tertentu berkat pergulatan intelektualnya dalam dunia pendidikan. Namun fenomena orang-orang terdidik belakangan ini selalu saja membuat kita menjadi miris. Sebab yang nampak cerdas dan ahli di mata kita justru tak berbanding lurus dengan adab yang dimilikinya. Sungguh para koruptor yang tengah me