Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato

Filsafat Kebahagiaan Perspektif Plato
Foto: Pixabay

Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil

Sejak dahulu, pembahasan mengenaipertentangan internal dalam diri manusia antara hasrat (nafsu) dan akal buditelah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana dharma dalam ajaran Hindumengajarkan memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yangkerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskanbahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalahdengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan Timur tersebut mengingatkan akan bahayanyanafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia.

Tak lama berselang, masih lebihkurang 24 abad silam, dari bumi Athena seorang pemikir besar bernama Platoberpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yangsaling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semuahasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Meski pandangan tentang halini telah didapati dalam rekam jejak ajaran  peradaban-peradaban kuno Mesopotamia maupunHindu kuno, namun Plato adalah orang yang pertama kali mengajukan pertanyaanini dan berusaha menjawabnya secara sistematis.

Plato membahas soal kebahagiaanmanusia dengan memulainya dengan membahas tentang jiwa. Menurut Plato, jiwamanusia memiliki tiga bagian, yakni bagian akal budi, semangat, dan nafsu-nafsurendah, dan ketiga bagian ini saling berlomba untuk mengatur keseluruhanmanusia. Jika bagian akal budi menang, maka ia akan menjadi manusia yang rasional,jika bagian semangat yang menang, maka ia akan menjadi orang yang berani, danjika bagian nafsu-nafsu rendah yang menang, maka ia akan menjadi orang yangdiperbudak oleh nafsu-nafsu rendahnya, seperti nafsu seks berlebihan, nafsumakan, dan nafsu akan kekuasaan.

Kebahagiaan adalah soal mengaturhasrat dan keinginan yang beragam di dalam diri manusia, sehingga semuanya bisaterarah pada satu tujuan yang bisa membuatnya bahagia. Tentang ini Aristotelespernah berkata, bahwa lepas dari keberagaman kriteria dan isi dari apa yangmembuat orang bahagia, ada satu hal yang sama, yakni bahwa kebahagiaan mencakupaktivitas jiwa manusia yang didasarkan pada keutamaan. Jadi lepas dari segalaperbedaannya, kebahagiaan itu selalu terkait dengan sifat dan sikap hidup yangbaik, yang disebutnya sebagai keutamaan. Keutamaan itu adalah sikap rendahhati, jujur, toleran, dan sikap-sikap baik lainnya. Orang yang bisa hidupdengan berdasarkan keutamaan pasti akan berpeluang besar untuk meraihkebahagiaan.

Kembali kepada Plato, Kebahagiaanpada hakekatnya adalah upaya manusia untuk menata beragam hasrat, dorongan, dankeinginan yang beragam di dalam dirinya, sehingga ia bisa mencapai kondisiharmonis, serta mulai mengarahkan hidupnya untuk mencapai tujuan yang bermaknabagi dirinya. Inilah inti pandangan Plato tentang kebahagiaan. Orang yangmencapai kebahagiaan adalah orang yang telah berhasil mencapai harmoni antarategangan antara jiwa luhur dan hasrat-hasratnya. Ia tidak membiarkankeinginannya tumpang tindih, selalu tertata, kuat secara pribadi, dan dalamsemuanya itu ia menjadi orang yang utuh serta bersahaja.

Platomenyebut sebuah istilah ‘rumahpenjara’ (prison house), yakni suatu kondisi di mana diri (self) manusiadipenuhi oleh hasrat dan keinginan tidak teratur, seperti kerakusan,kesombongan, dengki, dan iri hati. Kondisi ini akan bermuara pada terciptanyakeadaan tirani ketidakbahagiaan (tyranny of unhappiness). Jikasudah seperti itu, kebahagiaan akan semakin jauh dari genggaman tangan. Hal ini terjadi karena akalbudi belum menjadi tuan atas diri manusia. Akal budi masih dari nafsu danhasrat sesaat untuk meraih kenikmatan. Artinya, akal budi belum menjalankanfungsi normalnya, yakni sebagai penata berbagai hasrat dan keinginan yangbergejolak di dalam diri manusia. Akal budi belum menjadi sumber harmonikehidupan. Kegagalan akal budi untuk menjadi tuan atas diri manusia ini disebutjuga sebagai irasionalitas. Maka searah dengan pendapat Plato, kita tidak dapatmemahami kebahagiaan, selain sebagai harmoni antara berbagai hasrat dankeinginan di dalam diri manusia.

Kesimpulannya, kebahagiaan bukanlah soalmemenuhi semua keinginan yang sifatnya materil. Dan jika orang malas berpikir,serta memilih untuk hidup menuruti kemauan sesaatnya saja, kebahagiaan justrujauh dari genggaman tangan. Platopernah berpendapat bahwa individu yang baikadalah individu yang hidup dalam harmoni, baik di dalam dirinya maupun dalamdunia sosialnya. Individu tersebut utuh dalam arti bagian-bagian kepribadiannyaberfungsi secara normal dan membentuk kesatuan jati diri yang jelas. Tanpakesatuan itu orang akan terpecah kepribadiannya dan tak akan pernah meraih kebahagiaandalam hidupnya.

Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiratihasanah wa kinna azab annar

Tuhanku berikan kami kebahagiaan di dunia dankebahagiaan di akherat dan bebaskan kami dari siksa api neraka.

Popular posts from this blog

Unveiling the Bachelor of Science Abbreviation: Unlocking its Significance Worldwide

Education Plus Cyber Charter School: Empowering Students for the Future

How to Abbreviate Bachelor Degree, Bachelor's Degree on Resume, and More: A Comprehensive Guide