Posts

Showing posts from December, 2022

KOMUNIKASI POLITIK; PEMASARAN POLITIK VS PENJUALAN POLITIK oleh: Ahmad Syawqi S.Sos.Msos.I

Image
  Dulu sewaktu S1 di Sospol UVRI, komunikasi Politik merupakan salah satu sub tema dari mata kuliah komunikasi yang bagi saya cukup mengesankan, karena dengannya saya mengerti aspek epistimologis dari berpolitik itu. Sebagai bagian dari epistimologi politik,  komunikasi politik atau komunikasi pemasaran politik menjadi pengetahuan yang sangat prinsip dipahami bagi seseorang yang ingin terjun kekancah politik ataupun menjadi konsultan politik. Inilah satu dari sekian mata kuliah yang cukup berbekas di benak saya karena hal tersebut menginduksi pengetahuan saya tentang cara orang dalam berpolitik yang pada akhirnya membimbing saya didunia konsultan politik. Kali ini saya akan bercerita kepada pembaca tentang apa itu komunikasi pemasaran politik dan bagaimana komunikasi pemasaran politik itu berubah dan tereduksi menjadi komunikasi penjualan politik yang mengubah wajah politik di negeri tercinta kita ini. Baca Juga  Sebuah Esai Untuk Hari Filsafat Internasional Dalam falsafah komunikasi p

BERPOLITIK, BAGAIMANAKAH?

Image
  Seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang pernah menjabat sebagai perdana menteri di Indonesia Muhammad Natsir,pernah berkata bahwa Politik Itu Suci. Kekuasaan dalam politik artinya mengalokasikan nilai secara otoritatif, sehingga       dalam politik distribusi dan alokasi yang tepat atas sejumlah nilai dapat membawa kebahagiaan manusia. Politik itu panggilan pengabdian dan perjuangan kata Akbar Tanjung. Menjadi tidak aneh, apabila perebutan kekuasaan senantiasa menembus batas   waktu dan ruang secara geografis, generasi dan periode sejarah, sebagaimana perseteruan politik (Mazhabiyah) diruang keagamaan yang tak kunjung padam. Semua akhirnya bermuara pada Hegemoni dan kekuasaan. Dalam konteks itu, tentunya beragam motif manusia untuk berkuasa. Karena dengan berkuasa berbagai hal yang tidak dapat dilakukan menjadi mungkin untuk dilakukan ataupun didapatkan. Kekuasaan juga dapat mewujudkan transformasi social dan idealitas-idealitas idiologis yang di mimpikan

Sebuah Esai Untuk Hari Filsafat Internasional

Image
Bulan melompat Dalam arus Sungai Besar… Mengapung dalam angin, Menyerupai apakah aku? — Du Fu, “Kelana Malam” (Tiongkok, Dinasti Tang, 765). Dikutip dari The Demon-Haunted World, Carl Sagan. Pernah ada pohon; namanya “filsafat”… Anda bisa melanjutkan kalimat di atas dengan jalan cerita yang Anda sukai. Bahwa suatu masa—begitu biasanya suatu kisah dibuka—pohon pertama tumbuh saat kali pertama manusia menggerakkan akal budinya, saat ia melihat alam semesta; arak-arakan awan, pasir-pasir beterbangan; air sungai mengalir; dan menyadari dirinya yang sedang takjub. Apakah semua itu? Yang bergerak, berpindah, terbang, dan mengalir. Air, udara, api…. Filsafat bukan dongeng. Ia adalah pohon—setidaknya seperti dinyatakan Stephen Palmquis. Seperti perkataannya yang saya kutip di atas, yang tumbuh seiring manusia membangun sejarah dan kebudayaan. Baca Juga  Demokrasi dan Moralitas Politik Oleh: Andi Ashim Amir Filsafat adalah pohon yang statis tapi juga dinamis. Akar-akarnya tidak membuatnya denga