Posts

Showing posts with the label Filsafat

Makna Buku Adalah Jendela Ilmu Pengetahuan: Menjelajahi Kedalaman Pengetahuan

Image
Makna buku adalah jendela ilmu pengetahuan - Di dunia yang didorong oleh teknologi dan konten digital, makna buku sebagai jendela ilmu pengetahuan tetap kuat. Buku, dalam arti yang lebih luas, adalah jendela ilmu pengetahuan. Buku menyimpan dalam halaman-halaman mereka berbagai informasi, cerita, dan wawasan yang dapat memperluas pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita. Baca Juga: Hari Filsafat Sedunia: Memperingati Kebijaksanaan Filsafat Mengapa Buku Penting? Buku memainkan peran penting dalam membentuk pikiran, menginspirasi imajinasi, dan meningkatkan pengetahuan. Mereka adalah sumber pengetahuan yang tak ternilai dan dapat membantu dalam pengembangan pribadi dan akademik. Berikut adalah beberapa alasan mengapa buku begitu penting: 1. Menjelajahi Dunia Melalui Kata-Kata Buku adalah jendela yang membuka pintu ke dunia baru. Dengan membaca buku, kita dapat menjelajahi tempat-tempat baru, mengenal budaya yang berbeda, dan memahami perspektif orang lain. Kita dapat

Hari Filsafat Sedunia: Memperingati Kebijaksanaan Filsafat

Image
Selamat datang dalam perjalanan eksplorasi intelektual kita ketika kita menjelajahi makna dari " Hari Filsafat Sedunia ," perayaan yang menghormati kebijaksanaan filsafat. Filsafat adalah upaya untuk mencari pengetahuan, pemahaman, dan kebijaksanaan, dan hari ini menjadi panggung global untuk merayakan dampaknya dalam kehidupan kita.  Dalam artikel ini, kita akan membahas inti filsafat, relevansinya di dunia saat ini, dan pentingnya Hari Filsafat Sedunia dalam mendorong pemikiran kritis dan pertumbuhan intelektual. Mengenal Filsafat Filsafat merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengajukan pertanyaan mendasar tentang eksistensi, pengetahuan, etika, dan nilai-nilai kehidupan. Ia melibatkan pemikiran kritis, analisis, dan refleksi mendalam untuk mencari pemahaman yang lebih dalam tentang alam semesta dan tempat kita di dalamnya.  Filsafat tidak hanya berkutat pada jawaban-jawaban pasti, tetapi juga berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan untuk merumu

Sebuah Esai Untuk Hari Filsafat Internasional

Image
Bulan melompat Dalam arus Sungai Besar… Mengapung dalam angin, Menyerupai apakah aku? — Du Fu, “Kelana Malam” (Tiongkok, Dinasti Tang, 765). Dikutip dari The Demon-Haunted World, Carl Sagan. Pernah ada pohon; namanya “filsafat”… Anda bisa melanjutkan kalimat di atas dengan jalan cerita yang Anda sukai. Bahwa suatu masa—begitu biasanya suatu kisah dibuka—pohon pertama tumbuh saat kali pertama manusia menggerakkan akal budinya, saat ia melihat alam semesta; arak-arakan awan, pasir-pasir beterbangan; air sungai mengalir; dan menyadari dirinya yang sedang takjub. Apakah semua itu? Yang bergerak, berpindah, terbang, dan mengalir. Air, udara, api…. Filsafat bukan dongeng. Ia adalah pohon—setidaknya seperti dinyatakan Stephen Palmquis. Seperti perkataannya yang saya kutip di atas, yang tumbuh seiring manusia membangun sejarah dan kebudayaan. Baca Juga  Demokrasi dan Moralitas Politik Oleh: Andi Ashim Amir Filsafat adalah pohon yang statis tapi juga dinamis. Akar-akarnya tidak membuatnya denga

Ilusi Identitas dan Sindiran Lacan

Image
(Jacques Lacan) Oleh : Muhajir S.pd Seseorang bisa saja mengatakan dirinya “aku bugis”, “aku makassar”, “aku cantik”, “aku tampan” , “aku”........... Tapi bagaimana jika segala identitas manusia tak lahir dari otonomi kesadarannya sendiri? Maka, dari sini, muncul pertanyaan baru: kalau begitu, dari mana identitas kita bermula? Disinilah manusia disindir tanpa ampun oleh pemikir yang satu ini: Jacques Lacan. Menurut Lacan, seorang psikoanalis tersohor, ‘aku’, sebut saja juga ego, sebenarnya hanyalah ilusi, hanyalah produk dari ketidaksadaran. Baca Juga  Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato Sindiran Lacan bisa kita interpretasikan seperti ini: Jika kesadaran_menilik cogito Cartesian_ adalah ego rasional dan memegang kendali atas diri, maka, ketidaksadaran adalah diri irasional dan diri yang dikendalikan oleh bukan dirinya: Sang lain (selanjutnya disebut Liyan). Pengendalian “diri” oleh Liyan, tak lain dan tak bukan, justru karena diri tak memiliki pusat kendali: kesadaran itu. Sehingga

Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato

Image
Foto: Pixabay Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil Sejak dahulu, pembahasan mengenaipertentangan internal dalam diri manusia antara hasrat (nafsu) dan akal buditelah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana dharma dalam ajaran Hindumengajarkan memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yangkerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskanbahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalahdengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan Timur tersebut mengingatkan akan bahayanyanafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia. Tak lama berselang, masih lebihkurang 24 abad silam, dari bumi Athena seorang pemikir besar bernama Platoberpendapat bahwa setiap manusia memiliki ragam keinginan dan hasrat yangsaling berkonflik satu sama lain, serta bahwa manusia harus mengatur semuahasrat yang bergejolak di dalam dirinya tersebut. Meski pandangan tenta

Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Aristoteles

Image
Aristoteles (Foto: Pixabay) Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil.i Menjadi bahagia, disadari atau tidak adalah tujuansemua manusia. Pada dasarnya motif yang menggerakkan manusia untuk melakukanapa pun adalah untuk mencapai kebahagiaan.  Tujuan asasi manusia adalah mencapaikebahagiaan, namun pendefenisian kita tentang kebahagiaan sering berbeda,sehingga tindakan kita untuk mencapai kebahagiaan tersebut berbeda-beda pula,bahkan kerap berkontradiksi antara satu orang dengan orang lain.  Pendefenisianatau pemaknaan kita tentang apa itu kebahagiaan sangat menentukan tindakan kitauntuk mencapainya. Sebagian orang melekatkan kebahagiaan pada hal-halyang bersifat materil, sehingga pencapaian kebahagiaan dilakukan denganberusaha memuaskan segenap hasratnya untuk mencerap kenikmatan materil.  Sebaliknya ada yang berpandangan bahwa melekatkan kebahagiaan pada sesuatu yang bersifatmateril adalah sebuah kesalahan besar, karena materi tak akan pernah memebrikankebahagiaan hakiki pada ma

Akal dalam Alquran dan Filsafat Islam: (Sebuah Catatan Pengantar)

Image
Ilustrasi Oleh: Sabara, M. Fil.i A.    Mukaddimah Akal (‘aql) adalah fakultas epistemologi yg sangat penting dalam diri manusia, yang dengannya manusia bisa mengetahui, memahami, dan menganalisis sesuatu dengan baik. Namun, apa sebenarnya akal? Dan apa saja kategorisasinya? Banyak yang tidak mengetahuinya.  Para filosof muslim, khususnya filosof paripatetik membahas tentang akal secara terperinci, karena konsepsi tentang akal merupakan postulat dasar dalam filsafat mereka. Mereka percaya bahwa dengan akal dapat mengantarkan manusia untuk mencapai kebenaran sejati. Lalu bagaimana, Alquran sebagai dalil naqli menjelaskan tentang akal? B.     Defenisi Akal Akal merupakan kata yang diadopsi dari bahasa Arab, yaitu al-a’ql ( ism atau kata benda). Sedangkan dalam bentuk fi’il (kata kerja) sebagaimana yang sering disebut dalam Alquran adalah ‘aqalah, ta’qilun, na’qil, ya’qilun, dan ya’qiluha , dan orang yang berakal disebut ‘ aqil.   Secara etimologis, kata akal berasal

Cinta Pesan Kemanusian Iqbal

Image
Oleh : Alik Nino C.S.pd Subuh yang damai, rasa-rasanya tidak seperti subuh saya yang lalu-lalu. Diluar sana gema semesta terdengar mellow dengan melodi hujan melengkapi segalanya. Sejak terbangun subuh tadi, seperti biasa aku hendak membaca. Sebenarnya akhir-akhir ini saya mulai membiasakan cepat bangun pagi, selain ingin mengubah kebiasan buruk bangun jam 11 siang, saya juga ingin punya jadwal yang rutin dalam membaca.  Karena alasan ini maka jadwal membaca saya pindah jam tayang; waktu subuh tepatnya. Sebelumnya saya punya jadwal membaca yang buruk, dimana selera membaca saya hadir disitu pula saya sedang membaca. Yaa...selera jadi indikator membaca Namun namanya selera tidak selamanya hadir, ia hanya sesaat. Karena itu membaca sangat tidak rutin saya laksanakan. Selain membaca, sayajuga menyempatkan untuk menulis apa saja yang ada di dalam kepalaku yang membentak hendak keluar.  Sebab ketika tidak keluar kepala saya jadi panas dan saya tidak mau kepala saya terasa pan

Mengapa Filsafat?: Sebuah Testimoni

Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil.i Filsafat itu ruwet, menyesatkan, tidak ada gunanya, bahkan berbahaya, itu kata orang yang sebenarnya tak mampu berpikir. Filsafat itu ruwet memang, tapi lebih lagi ruwet kehidupan yang dijalani dengan pikiran yang kacau, tidak sistematik, dan dengan dasar yang tidak jelas. Filsafat itu ruwet karena sebetulnya ia ingin mengurai benang kusut kehidupan dengan menjernihkan pikiran yang keruh. Kita sering menderita dan kacau karena persoalan-persoalan yang tidak jelas. oleh “persoalan” yang sebenarnya bukan persoalan. Filsafat hendak menjernihkan peta persoalan dalam hidup kita. Filsafat menambah gagasan, memeprdalam kemampuan analisis kita, dan memperkuat argumentasi. Filsafat itu menyesatkan, tapi lebih menyesatkan orang yang tidak mengerti pendapatnya sendiri, tdk tau pilihannya sendiri, sikap dan prilakunya lebih karena mengikuti kecenderungan org lain di sekelilingnya. Orang seperti ini tidak mengetahui apa yang ia yakini dan gamang den

Filsafat Barat: Pengantar Perspektif Sejarah Pemikiran

Filsafat Barat adalah sejarah panjang pemikiran manusia-manusia kaukasoid yang dengan mengendarai nalarnya mencoba untuk keluar dari belenggu dogma mitologis. Evolusi pemikiran filsafat Barat berkembang dari kritik pemikiran kosmologi hingga mengutak-atik pemikiran alam simbologi, dari pemikiran kosmosentris Thales hingga petualangan semiologi Roalnd Barthes. Namun, apakah filsafat Barat hanyalah sebuah sketsa sejarah pemikiran yang berada pada lokus kawasan belahan Barat dunia?. Selama lebih dari 2500 tahun pemikiran filsafat Barat beranjak dari Miletos lalu menyeberang ke tanah Greek dan terkungkung dalam hegemoni gereja skolastik Romawi, lalu bersinar memantik pencerahan akal budi di tanah Inggris, Jerman, dan Prancis, hingga seluruh daratan Eropa, Oleh : Sabara Nuruddin SH, M.fil Amerika, dan akhirnya dengan itu, peradaban Barat tampil menghegemoni dunia. Filsafat Barat adalah simbol penegakan keagungan dan kuasa nalar manusia yang berontak terhadap keangkuhan dan kekakuan dogma.

Pluralisme dalam Alquran: Pluralitas Manusia dalam Kesatuan Nilai Universal Kemanusiaan

Oleh : Sabara Nuruddin    Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan Balitbang Agama Makassar Dimuat dalam harian Fajar edisi Kamis 16 Mei 2013 Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan, hanya kepada Allah kembali kamu semuanya, lalu diberitahu kepadamua apa yang kamu perselisihkan itu (al-Maidah (5 ):48).  Tauhid merupakan doktrin dasar yang paling fundamen dalam ajaran  Islam. Seorang muslim, diwajibkan untuk menginternalisasi Tauhid sebagai paradigma (pandangan dunia) dalam mengarungi kehidupan. Selama lebih separuh masa dakwah Rasulullah saw (+ 13 tahun) memfokuskan perjuangannya pada internalisasi Tauhid di masyarakat Arab (Quraisy). Tauhid, bukan sekedar pengakuan atau persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah, tapi pemaknaan terhadap Tauhid melampaui dari sekedar p